Indonesia

PENDAHULUAN A.Latar Belakang Kementerian Kesehatan dalam upaya perbaikan status gizi di masyarakat khususnya balita sudah melakukan intervensi. Intervensi yang dilakukan yaitu intervensi spesifik dan intervensi sensitif. Intervensi secara spesifik antara lain pemberian suplemen gizi, promosi gizi, tata laksana gizi kurang /buruk, dan lain-lain. Sedangkan intervensi gizi secara sensitif antara lain yaitu penyediaan air bersih, pendidikan gizi masyarakat. Intervensi spesifik dan sensitif ini sebaiknya dipadukan agar penanganan masalah gizi dilakukan secara berkelanjutan (Rosha et al., 2017). Penanganan masalah gizi ini salah satunya dilakukan oleh puskesmas. Salah satu fungsi puskesmas adalah sebagai penggerak pembangunan kesehatan di masyarakat. Puskesmas sebagai penggerak sekurang-kurangnya ada 6 (enam) jenis pelayanan tingkat dasar yang harus dilaksanakan, salah satunya adalah perbaikan gizi (Kemenkes RI, 2012). Perbaikan gizi yang dilakukan di tingkat puskesmas meliputi upaya gizi perseorangan dan upaya kesehatan masyarakat. Upaya kesehatan masyarakat bidang gizi sering disebut pelayanan gizi masyarakat. Pelayanan gizi masyarakat diarahkan untuk mempertahankan dan meningkatkan status gizi. Kegiatan ini dilakukan melalui pelayanan gizi di keluarga, posyandu, dasawisma dan pos pemulihan gizi /pelayanan gizi berbasis masyarakat (PGBM) (Kemenkes RI, 2014). Layanan yang telah dilakukan antara lain pemberian makanan tambahan (PMT), penyuluhan, pemeriksaan dan rujukan. Pelayanan gizi di masyarakat untuk anak umur bawah lima tahun (balita) sudah berjalan lama namun Indonesia masih mengalami permasalah kekurangan gizi disamping masalah kelebihan gizi. Berdasarkan data dan informasi Profil Kesehatan Indonesia tahun 2018 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terjadi peningkatan masalah status gizi balita. Peningkatan prosentase status gizi balita usia 0-59 bulan berdasarkan indeks BB/U tahun 2017-2018 adalah gizi buruk 2,4 % menjadi 2,5 %, dan gizi kurang sebesar 10,20 % menjadi 13,0 %. Sedangkan status gizi berdasarkan indeks BB/TB adalah kategori sangat kurus 2,00 % menjadi 1,2 %, dan berat badan kurus 6,30 % menjadi 7,20 % (Kemenkes RI, 2019). Sedangkan prevalensi balita Kurang Energi Protein (KEP) di DIY dari tahun 2013 sampai dengan 2017 masih berkisar pada angka 8 % yang menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan dalam rangka penurunan prevalensi balita KEP di DIY belum tercapai secara maksimal. Keadaan prevalensi balita KEP paling tinggi adalah Kabupaten Kulon progo sebesar 12,33 % pada tahun 2017 (Dinkes DIY, 2017). Dari hasil pemantauan pertumbuhan di posyandu pada tahun 2017 yang disusun dalam Profil Kesehatan Kabupaten Kulon Progo diperoleh hasil balita yang dilaporkan sebanyak 25.111 balita, dilakukan penimbangan sebanyak 21.646 balita (85,49%). Jumlah anak balita bawah garis merah (BGM) sebanyak 224 balita (1,03%). Keadaan di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Puskesmas Temon I menunjukkan prevalensi BGM sebesar 1,9 % dan menempati urutan kedua teratas dari puskesmas yang ada(Kulonprogo, 2018). Target Rencana Strategis (Renstra) Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo tahun 2017-2022 untuk program gizi tahun 2019 adalah prevalensi balita bawah garis merah 0,91%, prevalensi balita stunting 16,01%, prevalensi ibu hamil dengan anemia 11,62% (Kulonprogo, 2018). Target tersebut harus menjadi acuan target kegiatan puskesmas dalam melaksanakan kegiatannya. Data status gizi balita berdasarkan Pemantauan Status Gizi (PSG) di UPTD Puskesmas Temon I pada tahun 2017 untuk indikator berat badan menurut umur yang berada dibawah - 3 SD ; sebesar 2,01 % (Temon I, 2017), sedangkan yang berada dibawah -2 SD ada sebesar 11,06 %. Menurut data PSG tahun 2018 balita dengan berat badan sangat kurang sebesar 1,99 % dan balita dengan berat badan kurang ada 11,3 %(Temon I, 2018). Dari data tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat masalah gizi pada balita khususnya balita dengan berat badan kurang (gizi kurang). Tidak membaiknya keadaan gizi tersebut terkait dengan kualitas dari program perbaikan gizi. Selama ini program perbaikan gizi hanya bersifat meneruskan program dari pusat. Dalam rangka perbaikan gizi masyarakat khususnya masalah gizi pada balita KEP dan kurus, Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo dan puskesmas sudah melakukan program antara lain pemberian makanan tambahan, promosi kesehatan dan pelayanan kesehatan. Sumber pembiayaan program perbaikan gizi masyarakat bersumber dari anggaran pusat, anggaran daerah dan swadaya masyarakat.. Menurut informasi dari penanggungjawab program gizi puskesmas, di UPTD Puskesmas Temon I telah melaksanakan kegiatan perbaikan status gizi pada balita KEP secara rutin pada tiga tahun terakhir. Pada balita status gizi kurus diberikan pemberian makanan tambahan pemulihan berupa biskuit yang bersumber dari Kementerian Kesehatan atau pemberian makanan tambahan bahan lokal yang bersumber dari dana Anggaran Perencanaan Belanja Daerah (APBD). Sedangkan untuk balita status gizi berat badan kurang dan berat badan sangat kurang diberikan program inovasi “Pendampingan” yang bersumber dari dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) puskesmas. Program “Pendampingan” merupakan program inovasi dari UPTD Puskesmas Temon I di bidang gizi. Program perbaikan gizi pada balita dengan inovasi “Pendampingan” di UPTD Puskesmas Temon I sudah dilakukan dua kali yaitu pada tahun 2017 dan 2018. Sedangkan tahun 2019 direncanakan ada satu kali kegiatan. Untuk mengetahui model program perbaikan gizi balita di masyarakat yang tepat maka perlu dilakukan evaluasi terhadap kegiatan yang sudah ada. Evaluasi program perbaikan status gizi merupakan pengawasan dan penilaian secara berkala terhadap pelaksanaan program di puskesmas. Evaluasi dilakukan pada awal, proses, hasil akhir dan dampak dari suatu program perbaikan gizi di masyarakat. Evaluasi bertujuan untuk melihat perkembangan, pencapaian tujuan yang diharapkan, dan mengidentifikasi outcome yang berhubungan dengan diagnosis. Berdasarkan latar belakang tersebut dan studi pendahuluan yang dilakukan peneliti, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Evaluasi Program Perbaikan Gizi Masyarakat Pada Balita Gizi Kurang dan Buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo”. B.Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana pelaksanaan program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo?” C.Tujuan Penelitian 1.Tujuan umum Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo. 2.Tujuan khusus a.Menganalisi komponen konteks, meliputi dasar hukum, analisis kebutuhan, tujuan dalam program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo. b.Menganalisis komponen input (masukan), meliputi dana, tenaga, sumber daya pendukung, bahan makanan, dan peserta dalam program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo. c.Menganalisis komponen proses meliputi perencanaan, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, koordinasi, pemantauan dan evaluasi, pencatatan dan pelaporan dalam program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo. d.Menganalis komponen keluaran meliputi cakupan status gizi balita dan perubahan (pengetahuan gizi kesehatan, pola makan, Perilaku Hidup Bersih Sehat) dalam program perbaikan gizi masyarakat pada balita gizi kurang dan buruk di UPTD Puskesmas Temon I Kabupaten Kulon Progo.

Inggris

PRELIMINARY A. Background The Ministry of Health in an effort to improve nutritional status in the community, especially toddlers, has intervened. The interventions carried out are specific and sensitive interventions. Specific interventions include the provision of nutritional supplements, promotion of nutrition, poor / poor nutrition management, and others. Whereas sensitive nutrition interventions include the provision of clean water, public nutrition education. These specific and sensitive interventions should be integrated so that the handling of nutritional problems is carried out in a sustainable manner (Rosha et al., 2017). One way to handle nutrition problems is by the puskesmas. One of the functions of the puskesmas is as a driver of health development in the community. There are at least 6 (six) types of primary health care centers that must be implemented, one of which is nutrition improvement (Kemenkes RI, 2012). Nutrition improvement carried out at the health center level includes individual nutrition efforts and public health efforts. Public health efforts in the field of nutrition are often called community nutrition services. Community nutrition services are directed at maintaining and improving nutritional status. This activity is carried out through nutrition services in the family, posyandu, dasawisma and nutrition recovery posts / community-based nutrition services (PGBM) (Kemenkes RI, 2014).The services that have been carried out include provision of supplementary food (PMT), counseling, examination and referral. Nutrition services in the community for children under five years old (toddlers) have been running for a long time but Indonesia is still experiencing problems of malnutrition in addition to the problem of over nutrition. Based on data and information on Indonesia Health Profile in 2018 issued by the Ministry of Health, in the Special Region of Yogyakarta (DIY) there is an increase in the nutritional status of children under five. Increasing the percentage of the nutritional status of children aged 0-59 months based on BB / U index in 2017-2018 is bad nutrition 2.4% to 2.5%, and malnutrition by 10.20% to 13.0%. While the nutritional status based on the BB / TB index is the very thin category 2.00% to 1.2%, and thin body weight 6.30% to 7.20% (Ministry of Health Republic of Indonesia, 2019). While the prevalence of underfives of Protein Energy Deficiency (PEM) in DIY from 2013 to 2017 is still around 8%, which indicates that efforts made to reduce the prevalence of PEM infants in DIY have not been maximally reached. The highest prevalence of KEP infants was Kulon Progo Regency at 12.33% in 2017 (Dinkes DIY, 2017).From the results of growth monitoring at posyandu in 2017 compiled in the Health Profile of Kulon Progo District, it was found that under-five children were reported as many as 25,111 children, weighing 21,646 children (85.49%). The number of children under five under the red line (BGM) is 224 children (1.03%). The situation in the Regional Technical Implementation Unit (UPTD) of the Temon I Puskesmas showed a BGM prevalence of 1.9% and ranked the second highest of the existing puskesmas (Kulonprogo, 2018). The target of the Strategic Plan (Renstra) of the Kulon Progo District Health Office for 2017-2022 for the nutrition program in 2019 is the prevalence of under-fives under the red line 0.91%, the prevalence of under-fives stunting 16.01%, the prevalence of pregnant women with anemia 11.62% (Kulonprogo , 2018). The target must be a reference for the puskesmas activity target in carrying out its activities. Data on nutritional status of children under five years based on Nutrition Status Monitoring (PSG) in UPTD Puskesmas Temon I in 2017 for indicators of body weight according to age under - 3 elementary schools; of 2.01% (Temon I, 2017), while those under -2 elementary schools were 11.06%. According to the PSG data for 2018, under-fives underweight are 1.99% and under-fives are under 11.3% (Temon I, 2018).From these data shows that there are still nutritional problems in toddlers, especially toddlers with underweight (malnutrition). The lack of improvement in nutrition is related to the quality of the nutrition improvement program. So far, the nutrition improvement program is only continuing the program from the center. In the context of improving community nutrition, especially nutritional problems in KEP and under-fives, Kulon Progo District Health Office and puskesmas have implemented programs including supplementary feeding, health promotion and health services. The funding source for the community nutrition improvement program is sourced from the central budget, regional budget and non-governmental organizations. According to information from the person in charge of the health center nutrition program, the UPTD Puskesmas Temon I has carried out routine nutrition improvement activities for KEP infants in the past three years. Under five years old, underweight nutritional status is given supplementary recovery food in the form of biscuits sourced from the Ministry of Health or supplementary supplementary food sourced from the Regional Budget (APBD). Whereas for under-fives, underweight and underweight nutritional status are provided with the "Mentoring" innovation program sourced from Puskesmas Health Operational Assistance funds. The "Assistance" program is an innovative program from the UPTD Puskesmas Temon I in the field of nutrition.Nutrition improvement program for toddlers with the innovation of "Mentoring" at UPTD Puskesmas Temon I has been carried out twice, namely in 2017 and 2018. While in 2019 there is planned to be one activity. To find out the right model of nutrition improvement program for toddlers in the community it is necessary to evaluate existing activities. Evaluation of nutrition status improvement program is a periodic monitoring and evaluation of the program implementation at the puskesmas. The evaluation is carried out at the beginning, the process, the final results and the impact of a nutrition improvement program in the community. Evaluation aims to see the development, achievement of the expected goals, and identify outcomes related to diagnosis. Based on this background and a preliminary study conducted by the researcher, the researcher is interested in conducting a research entitled "Evaluation of the Community Nutrition Improvement Program in Underweight and Poor Nutrition Toddlers in the Puskesmas I Temon I Kulon Progo District".B. Problem Formulation Based on the background description above, the formulation of the problem in this study is: "How is the implementation of a community nutrition improvement program for underweight and poor nutrition toddlers in the UPTD Puskesmas I Temon I Kulon Progo Regency?" C. Research Objectives 1. General Purpose This study aims to explore the community nutrition improvement program for under-malnourished and poor under-fives in the Temon I Puskesmas I, Kulon Progo Regency. 2. Special purpose a. Analyzing the context component, including the legal basis, needs analysis, objectives in the community nutrition improvement program for under-malnourished and poor nutrition children in the UPTD Puskesmas I Temon I, Kulon Progo Regency. b. Analyze the components of input (input), including funds, energy, supporting resources, food ingredients, and participants in community nutrition improvement programs for underfives and poor nutrition in UPTD Puson Temon I, Kulon Progo Regency. c. Analyze the process components including planning, socializing, implementing activities, coordinating, monitoring and evaluating, recording and reporting in the community nutrition improvement program for under-malnourished and poor nutrition toddlers in the Puson I District Health Center, Kulon Progo Regency.Analyzing the components of output includes the coverage of the nutritional status of children under five and changes (health nutrition knowledge, eating patterns, Clean Healthy Behavior) in the community nutrition improvement program for under-malnourished and poor nutrition children in UPTD Puson Temon I, Kulon Progo Regency.

Persyaratan Layanan

Dianggap bahwa pengguna yang mengunjungi situs web ini telah menerima Ketentuan Layanan dan Kebijakan Privasi. Di situs web (terjemahaninggris.com), pengunjung mana pun dapat memiliki bagian seperti forum, buku tamu, tempat mereka dapat menulis. Kami tidak bertanggung jawab atas konten yang ditulis oleh pengunjung. Namun, jika Anda melihat sesuatu yang tidak pantas, beri tahu kami. Kami akan melakukan yang terbaik dan kami akan memperbaikinya. Jika Anda melihat sesuatu yang salah, hubungi kami di →"Kontak" dan kami akan memperbaikinya. Kami dapat menambahkan lebih banyak konten dan kamus, atau kami dapat mencabut layanan tertentu tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada pengunjung.


Kebijakan Privasi

Vendor pihak ketiga, termasuk Google, menggunakan cookie untuk menayangkan iklan berdasarkan kunjungan sebelumnya yang dilakukan pengguna ke situs web Anda atau situs web lain. Penggunaan cookie iklan oleh Google memungkinkan Google dan mitranya untuk menayangkan iklan kepada pengguna Anda berdasarkan kunjungan mereka ke situs Anda dan/atau situs lain di Internet. Pengguna dapat menyisih dari iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi Setelan Iklan. (Atau, Anda dapat mengarahkan pengguna untuk menyisih dari penggunaan cookie vendor pihak ketiga untuk iklan hasil personalisasi dengan mengunjungi www.aboutads.info.)